Mematikan lampu ketika tidur malam yang gelap diam-diam berkolaborasi dengan tubuh. Hanya dalam keadaan yang benar-benar gelap tubuh menghasilkan Melantonin, salah satu hormon dalam sistem kekebalan yang mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit termasuk kanker payudara dan kanker prostat.
Sebaliknya, tidur dengan lampu menyala di malam hari - sekecil apapun sinarnya menyebabkan produksi hormon melantonin terhenti. Biolog Joan Roberts menemukan rahasia ini setelah melakukan percobaan pada hewan. Ketika hewan diberi cahaya buatan pada malam hari, melantoninnya menurun dan sistem kekebalan tubuhnya melemah. Rupanya, cahaya lampu - seperti juga TV - menyebabkan hormon menjadi sangat lelah.
Oleh karena itu, selain menghemat energi,dengan mematikan lampu ketika tidur merupakan cara alami untuk meningkatkan kesehatan tubuh.
Sumber : http://ahzami.wordpress.com
[-read more-]
Jumat, 13 Februari 2009
Manfaat mematikan lampu pada saat tidur
Diposting oleh
Ros Rose'diana
di
01.44
0
komentar
Label: For Healty
Rabu, 11 Februari 2009
Alhamdulillah...tiada yang sia-sia
alhamdulillah...tiada yang sia-sia
kerja keras selama 2 hari tuk menyelesaikan proposal PKMP ternyata tidak sia-sia. Kemarin, smpt baca surat dari rektorat yang intinya memberi info klo' proposal tim kami lolos seleksi, dan rencana penelitian itu akan mendapat bantuan dana dari dikti. Alhamdulillah...
Meskipun sebenarnya, saya, juga teman2 se-tim sebenarnya sempat lupa klo' kami pernah ikut PKMP, ya biasalah..pengaruh terlalu sibuk (atau so' sibuk) makanya hal2 yang sudah lama terjadi sering terlupakan.
Awalnya, agak kurang percaya juga klo' tim kami lolos, tapi karena surat keputusan sudah di tangan, jadi ya...percaya g percaya harus percaya,hehe...
kembali mereview pengalaman waktu penyusunan proposal ini. Infi ttg PKMP kami dapat 3 hari sebelum terakhir pengumpulan, itupun kami dapat pas dah mo pulang.
Jadi konsen pembuatan proposalnya cuma' 2. tetapi, ....bersambung, dah malam!!!
[-read more-]
Diposting oleh
Ros Rose'diana
di
01.38
0
komentar
Label: Pengalaman
Rabu, 04 Februari 2009
Selama Dua Bulan itu...
Lagi2 me-review kejadian2 beberapa bulan lalu. Bulan Juli-September 2008. Bulan Juli, rombongan mahasiswa KKN Antara Unhas diberangkatkan ke lokasi masing2. Ros sendiri dapat lokasi di kabupaten Bone. Awalnya agak kecewa juga cz tidak seorang pun teman sejurusan dan seangkatanku yang dpt daerah Bone, tapi karena itu keputusan, jadi terima saja…Meskipun awalnya sempat kecewa, tapi ternyata lokasi ini tidak mengecewakan.
Magrib pertama di lokasi KKN, tepatnya di kec. DB desa ML bersama org2 yang sungguh tidak saya kenali (kecuali satu orang senior, yg kbtulan seposko). Satu pekan pertama di lokasi, rasanya sangat membosankan. Betul2 membosankan karena belum ada kegiatan, belum kenal juga dengan masyarakat di lokasi. Jadi hari2 itu kami lalui dengan omelan2 kecil dalam hati (karena jenuh plus bosan). Bagaimana tidak, pagi setelah sholat, siap2 jalan2 pagi (istilah kerennya ‘survey lokasi’). Pulang survey, langsung sarapan kemudian mandi, bersih-bersih (bareng pembantunya ibu desa). Setalah selesai, masuk kamar, dengar music, main game, sms-an atau tidur. Duhur, sholat duhur, makan siang, cuci piring, kemudian masuk kamar dan tidur lagi. Sore, jalan-jalan lagi sampai jelang magrib. Magrib, sholat magrib, nonton, makan malam, nyupir, nonton lagi atau main game, atau sms-an lagi, atau masuk kamar lagi mendekam… Ini dilakoni selama beberapa hari. Bagaimana tidak bosan coba’?
Selama satu pekan pertama itu, selain menggerutu dengan kebosanan yang ada, juga tidak habis-habisnya mengucap syukur, kenapa???karena setelah melakukan survey lewat sms, ternyata posko yang saya tempati jauh jauh dan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan teman2 di lokasi lain. Di posko ML, rumahnya bagus, orang rumahnya ramah, ada pembantunya lagi. Kamarnya luas plus tempat tidur yang empuk. Kamar mandi plus toiletnya memenuhi syarat standar kesehatan (maksudnya?). Airnya lancar, transportasi lancar, jaraknya ke kota kecamatan tidak terlalu jauh, ada hewan peliharaan yang bisa di ajak ngobrol (Nuri), di sekitar rumah banyak sawah (fresh) dan di dekat rumah pula ada beberapa pohon kelapa yang lebat buahnya (bisa di makan, gratisssss…ckup belikan rokok tukang panjatnya). Tapi tetap saja ada hal2 yang tidak sreg di hati yaitu di lokasi ini, banyak anjingnya, hiiiii….syereeeem…(ros sangat takut dgn anjing, trauma cz sdh 2x dikejar anjing, betul2 dikejar). Slain itu, kekurangan yang lainnya yaitu di posko ML, signal kurang bagus, dan mis kring-kring yang paling sering ngomel soal signal(sebutan untuk teman2 dposko yang paling rajin nelfon ataupun trima telfon, khusus cwe’). Soal signal, di posko ML lucu…sekitar 10 meter dari rumah, ada pos kamling. RD (cwo’), salah seorang teman poskonya Ros yang paling sering nongkrong di pos ini. Dan jadwalnya jelas. Sekitar jam 7-8 pagi. Klo’ tdk ke sekolah, dilanjutkan jam 10 sampe duhur. Kemudian sore sekitar jm 3.30 (stlh shlt ashr) lanjut lagi sampe jam 5 (klo’ da ikut jalan2 atau ke sawah), Karena itulah, si RD ini di beri nama “si penjaga poskamling”.
Selama dua bulan di lokasi kkn, banyak cerita yang tersimpan di memoriku. Mulai dari cerita tentang keunikan teman-teman posko, tentang kegialan-kegilaan yang terjadi di posko, tentang acara makan2 kelapa muda di sawah, tentang ROS diBURU ANJING, tentang pengalaman ngajar di SD, tentang pengalaman ngajar TPA, tentang kegiatan membersihkan mesjid, tentang agenda jalan-jalan ke posko lain, tentang kegilaan saat jalan2 ke kota Bone seharian, tentang kegiatan karnaval UNICEF, tentang latihan vocal group, tentang acara 17-an, tentang acara perpisahan, tentang acara nonton bareng,tentang acara pernikahan, dan masih banyak lagi.
Selama dua bulan di lokas kkn, ros bisa mengenal teman-teman seposko yang awalnya tidak kenal, yang awalnya tidak pernah ketemu di kampus meskipun tetangga fakultas. Mulai dari Eny (kosmik), Sabir, Rudi (Pmerintahan), Idar (pertanian), Lisa, Opan (perikanan). Dari setiap kepala ini ada ros coba ingat2 siapa mereka….
- Eny, cwe’ behel asli Raha…paling pintar masak masakan aneh2 dan sangat tidak menyukai sayuran yang berwarna hijau. Orangnya enak diajak ngobrol, punya banyak cerita aneh2
- Idar, cwe’ rebut asli Palopo..paling suka’ macalla, paling banyak kalasinya, paling tidak tau masak, paling sering nongkrong di tempat tidur, tapi paling rajin mandi.
- Lisa, cwe’ kacamata asli Enrekang…Paling sering jadi korban keusilannya Ros, paling sering diganggui sama teman posko, paling sering begadang main game dan paling suka nongkrong di dpn TV klo’ pagi, nonton spongbob. Kata teman2 dPosko, k’ Lisa sifatnya sangat kekanak-kanakan (entahlah, z bude jg bilang getoo…)
- Sabir, laki-laki jangkung plus kurus asli Siwa. Bagi dia, biar g sarapan yang jelas kereta masih jalan, maksudnya, biar tdk ada sarapan, yang jelasnya masih ada rokok. Klo’ ros perhatikan, ky’nya dy bisa habiskan satu bungkus rokok dalam waktu 1 hari (betul2 perokok aktif). Orangnya sabar, tidak banyak bicara, tapi skali bicara, langsung kena’, pa lagi klo’ macalla’ki juga. Paling banyak sms lucu-nya di HP (hasil inspeksi-nya Bude). Eh satu lagi, gifooooo juga, rivalku di posko.
- Rudi, to Mandar. Paling sering nelfon. Karena prestasinya sebagai pelanggan setia telkomsel dan pengunjung setia pos kamling, makanya dia diberi gelar “si penjaga pos kamling”. Rudi, banyak kalasinya juga klo’ minta tolongQ, sering ganggui orang, termasuk Ros (ros juga kan orang…)
- Opan, si gondrong asalm Palopo. Kordesnya posko ML. paling sering balik ke Mks, paling susah dibangunkan klo’ pagi, paling lama klo’ mandi dan paling sering nyanyi klo’ dKamar mandi. Orang pertama yang buat omlet di posko. Paling sering ketuk pintu kamar cwe’ minta pinjam sisir, dan paling sering pinjam ikat rambut (tapi tidak dikembalikan…)
Diantara teman2 ini, ros yang paling muda (cieeeee…), paling kecil, tapi paling manis (narsis boleh dunk, blum haram-ji to..??)
Selama dua bulan ini, tercatat, ada 3 kali ros tidak tidur malam, betul-betul2 tidak tidur semalaman. Pernah karena input data (titipan tugas dari Aji Anis), pernah karena begadang nonton, kemudian dilanjutkn dengan terima telfon, truz lanjut lagi maen game (makanya tdk tidur) dan juga pernah karena ngetik laporan desa (malam terakhir di Lokasi).
Ckup sampe’ sni aj dl, mo men game dlu. wslm
[-read more-]
Diposting oleh
Ros Rose'diana
di
20.03
0
komentar
Label: ttg ros
Ukhtiku… mengapa kau tanggalkan jilbabmu?
“Ley, jam brapa skrg?” tanyaku pada Leha yang akrab disapa Ley.
“jam Sembilan lewat. Knp?” Ley menjawab dan balik bertanya.
“tidak, cuma tanya sj” jawabku.
Hm..jam 9 lewat, napa bu Dewi belum masuk ngajar ya? Padahal lagi semangat2 ini mau blajar (biasanya kan agk malas getoo..), atau z cek di kantor sj, itung2 skalian juga cuci mata, ngecengin kk’ kelas yg lg maen bulu tangkis
Setelah ngecek di kantor, juga dah Tanya ke guru piket, ternyata ibu Dewi lagi sakit, so pasti dia tidak masuk ngajar hari ini. Sempat senang juga seeeeh…kan punya banyak waktu tuk nongkrong di aula.
Kulangkahkan kaki mungilku menuju ke teras mushollah sekolah. Ini jg jd tempat favorit teman2 di sekolah kami. Alasan mereka macam2, mulai dari alasan karena tempat ini sejuk, karena ita bisa nonton pemain bulu tangkis yang so’ jago (brani nantangin Taufik hidayat), karena lebih mudah klo’ mau sholat kan di teras mushollah, karena dekat kantin, juga karena tempat ini paling strategit tuk liat2 teman2 dari kelas lain (kale aj diantara mreka ada yg enak di pandangin)..tapi itu kebanyakan alasan konyol dari teman2 cowo’. Klo saya sendiri, suka tempat ini karena banyak teman, banyak orang yang bisa di ajak ngobrol.
Satu hal yang paling sering saya perhatikan klo’ lagi du2k di teras mushollah yaitu, akhwat2 yang jalan di tempat manapun yang mataku masih bisa melihatnya. Mereka dalam pandanganku kelihatan begitu cantik, begitu anggun dengan jilbabnya, apalagi jika ujung jilbabnya tertiup angin sepoi-sepoi, weitz..indahnya… Ima, seorang akhwat yang paling sering saya perhatikan. Selain karena jilbabnya, juga karena tutur katanya yang halus, sopan murah senyum dan tidak sekke’ lagi… Karena ini pula, sempat terlintas difikiranku, mungkinkah saya bisa seperti mereka???
Cerita ini terjadi sekitar lima tahun yang lalu sewaktu saya masih baru2 di bangku kelas 2 SMA.
………………………-------------------………………………….
Semester akhir di kelas 2, akhirnya saya ikut kajian pekanan di mushollah. Dari kajian rutin ini saya mendapatkan ilmu tentang banyak hal, termasuk dalam hal ini tentang jilbab. Kajian ini saya ikuti hingga kelas 3 SMA meskipun tidak selalu datang (makalasi). Setelah lama ikut, baru kemudian saya tahu kalo’ kajian inilah yang disebut tarbiyah (yang sering di bicarakan Ima dengan akhwat yang lain). Singkat cerita, Alhamdulillah, setelah kelompok tarbiyah yang saya ikuti sehat, saya-nya juga jadi agk sehat. Tapi tidak dengan Ima (waktu itu, setelah diadakan regrouping, saya sekelompok dengan Ima). Beberapa pekan dia tidak datang. Ditanya kenapa, juga dia tidak memberikan alas an yang betul2 pas. Di sekolah, hubungan kami pun agak renggang, bukan karena saling menjauh, tetapi karena kelas kami yang beda, juga karena kesibukan masing2 tuk persiapan UAN. Satu bulan menjelang UAS/UAN, untuk sementara tarbiyah tidak aktif. Jadi selama satu bulan itu, tidak ada lingkaran kecil di teras rumahnya k’ En. Dan selama satu bulan itu, semakin jarang lagi ketemu dengan Ima.
……………..--------------------………………………..
Beberapa hari setelah UAN, saya sempat janjian dengan Ima untuk ke NF, rencananya mau daftar bimbel kelas intensive tuk persiapan SPMB. Meskipun lama tidak pernah lagi ngobrol lama2 dengan ukhti yang satu ini, tapi tenyata masih bisa buat janjian tuk pergi bareng .
Hari H tiba. Alangkah kagetnya saya bukan kepalang melihat penampilan Ima hari itu. Bagaimana tidak, pakaian yang ia kenakan yaitu kerudung kecil yang dililit di kepala (biasa liat kan?), baju kaos agak ketat (menurut saya) dan juga CELANA PANJANG (Jeans). Naudzubillah…
“Ya Allah, apa yang terjadi dengan saudariku? Kemana saja saya, kenapa tidak pernah melihat perubahan pada saudariku? kemana saja saya, kenapa tidak pernah menanyakan kabarnya? dan kemana saja segala nasehat yang pernah Ima berikan ke saya tentang pentingnya ber-jilbab? kemana semua itu? Kemana? Apakah Ima sendiri telah lupa dengan nasehat2nya itu? “ semua pertanyaan2 itu hanya berputar2 di otak kecilku, tidak sanggup ku ucapkan. Hanya senyum miris yang bisa saya tampakkan menyambut senyuman cerianya hari itu. Ya Allah…
[-read more-]
Diposting oleh
Ros Rose'diana
di
19.58
0
komentar
Sabtu, 31 Januari 2009
Bila Keputihan Mendera
Apakah Anda pernah mengalami keluarnya cairan berwarna putih dan terasa gatal di area Miss V? Well.. Inilah yang dimaksud dengan keputihan dan jangan anggap enteng masalah ini, apalagi jika keputihan itu berbau dan berubah warna. Bisa jadi ini indikasi penyakit lho.
Menurut para ahli medis keputihan merupakan istilah awam untuk cairan yang keluar dari vagina. Istilah medisnya adalah Fluor albus.
Cairan yang keluar dari vagina bisa normal (fisiologis) atau tidak normal (patologis). Nah yang tidak normal inilah yang terindikasi penyakit.
Cairan vagina normal memiliki ciri-ciri antara lain warnanya putih jernih, bila menempel pada pakaian dalam berwarna kuning terang, konsistensi seperti lendir (encer-kental) tergantung siklus hormon, tidak berbau serta tidak menimbulkan keluhan.
Pada saat tertentu, memang terjadi peningkatan jumlah cairan secara fisiologis, namun hal itu bukan indikasi penyakit. Jumlah cairan vagina meningkat dalam kondisi peningkatan jumlah hormon pada sekitar masa haid atau saat hamil, rangsang seksual, stres atau kelelahan, penggunaan obat-obatan atau alat kontrasepsi.
Kapan cairan vagina dikatakan tidak normal? Yaitu jika jumlahnya lebih banyak dari biasa dan terus menerus muncul hingga terasa mengganggu, berbau amis, apek, busuk, berarna putih susu, kuning tua, coklat, kehijauan bercampur darah.
Selain ciri di atas, cairan vagina yang tidak normal juga ditandai dengan konsistensi encer, berbuih hingga kental menggumpal seperti susu basi disertai timbulnya kelainan pada daerah kelamin luar seperti benjolan atau luka-luka semacam sariawan, menimbulkan rasa gatal panas atau disertai rasa nyeri saat buang air kecil atau berhubungan seksual.
Ada berbagai penyebab keputihan yang tidak normal, dibedakan infeksi dan bukan infeksi. Penyebab infeksi adalah bakteri (Chlamydia, N. gonorrhoeae, bakterial vaginosis, dll), jamur (Candida sp), parasit (Trichomonas vaginalis).
Sedang yang bukan infeksi antara lain kanker leher rahim, polip serviks, gangguan keseimbangan flora vagina akibat pemakaian antiseptik (douche vagina) secara terus-menerus, alergi (spermisid, kondom, tisu KB), iritasi (dispareunia/sakit saat berhubungan intim, menopause).
Keputihan secara umum merupakan salah satu bentuk dari vaginitis atau peradangan vagina yang disebabkan pertumbuhan berlebihan Candida, jamur mikroskopis yang mendiami vagina. Saat kondisi vagina lebih basah, jamur akan leluasa tumbuh dan berkembang sehingga menyebabkan keputihan. Sebagai informasi, derajat keasaman vagina yang normal berkisar 3,8-4,2, menjaga populasi Candida dalam batas pertumbuhan normal. Saat kondisi vagina abnormal, akan tumbuhlah flora lain secara tidak normal alias dalam jumlah banyak yang mengganggu keseimbangan ekosistem vagina.
Kenapa keputihan tak boleh diremehkan?
Zaman yang sudah maju dan akses informasi yang mudah memungkinkan hampir setiap orang untuk mendiagnosis penyakit, kemudian mengobatinya sendiri. Hingga yang sering terjadi adalah salah diagnosis, salah obat dan berujung pada makin parahnya kondisi yang sudah ada. Gawat kan?
Menurut ahli medis hal ini sering terjadi pada kasus keputihan. Banyak perempuan merasa malu mengutarakan penyakit yang berhubungan dengan area bawah ini. Bahkan beberapa dari mereka menganggap keputihan adalah hal wajar sehingga tidak perlu diobati. Banyak di antara kita yang belum menyadari bahwa keputihan bisa menjadi tanda awal dari penyakit yang lebih berat, hingga menyebabkan kemandulan atau kanker. Jika keputihan tampak 'tidak wajar', segera ke dokter kebidanan dan kandungan.
[-read more-]
Diposting oleh
Ros Rose'diana
di
04.10
0
komentar
Label: ttg wanita
Selasa, 20 Januari 2009
Taujih Ust. Rahmat Abdullah (Alm) : Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah
Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang. Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW : "Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai." (HSR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari). Ini dalam kaitan interpersonal. Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar'i yang menggariskan aqidah "La tha'ata limakhluqin fi ma'shiati'l Khaliq". Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam berma'siat kepada Alkhaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).
Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : "Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus' shadr (lapang hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).
Bagi kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati setiap ikhwah : "Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi" (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Karenanya itu semua akan terpenuhi bila `hati saling bertaut dalam ikatan aqidah', ikatan yang paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah adalah saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran (Risalah Ta'lim, rukun Ukhuwah).
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka "kerugian apapun" yang diderita saudara-saudara dalam iman dan da'wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak tahan beramal jama'i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik. "Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu" (Qs. 47: 38).
Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da'wah ini. Ada yang sejak 20 tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan yang berbenturan dengan jadwal da'wah atau oleh urusan yang merugikan da'wah. Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan kepentingan da'-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.
Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. "Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah pengantinku tercinta", tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin da'wah telah mengelupas. Kala itu jarang da'i dan murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. "Ummi au shalati : Ibuku atau shalatku?" Sekarang yang membingungkan justru "Zauji au da'wati" : Isteriku atau da'wahku ?".
Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya : "Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da'wah. Apa pantas sesudah da'wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da'wah. Saya cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah". Dia pergi menerobos segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang ini keluarga da'wah tersebut sudah menikmati berkah da'wah.
Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da'wah. Kisahnya mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk da'wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan kader (liqa'). Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh penyakit "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (Qs. 48:11). Ia berjanji pada dirinya : "Meskipun terjadi hujan, petir dan gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da'wah". Pada giliran berangkat keesokan harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. "Wah ia yang sudah memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?". Maka ia pun absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da'wah besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang kembali dan iapun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dak-wah. Sampai hari ini pun saya melihat jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da'wah, baik halaqah atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka menemukan sesuatu yang lain, "in lam takun bihim falan takuna bighoirihim".
Di Titik Lemah Ujian Datang
Akhirnya dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu simpul. Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A'raf Ayat 163 : "Tanyakan pada mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di (tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah pada Sabtu dan di hari mereka tidak bersabtu ikan-ikan itu tiada datang. Demikianlah kami uji mereka karena kefasikan mereka". Secara langsung tema ayat tentang sikap dan kewajiban amar ma'ruf nahyi munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah kekayaan wawasan kita. Ini terkait dengan ujian.
Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda'wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan. Kalau ada sekolah yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya, maka sekolah tersebut dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian kesulitan, kenikmatan itu sendiri adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah rata-rata kader da'wah sekarang secara ekonomi semakin lebih baik. Ini tidak menafikan (sedikit) mereka yang roda ekonominya sedang dibawah.
Seorang masyaikh da'wah ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah, mengajak rekannya untuk mulai aktif berda'wah. Diajak menolak, dengan alasan ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan kalau berda'wah, da'wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu. "Ternyata kayanya kaya begitu saja", ujar Syaikh tersebut.
Ternyata kita temukan kuncinya, "Demikianlah kami uji mereka karena sebab kefasikan mereka". Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada titik yang paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang seharusnya dipakai ibadah justru ikan datang, pada hari Jum'at jam 11.50 datang pelanggan ke toko. Pada saat-saat jam da'wah datang orang menyibukkan mereka dengan berbagai cara. Tapi kalau mereka bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila diam salju itu tak akan me-nyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos segala hal yang pahit seperti anak kecil yang belajar puasa, mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan, kesenangan dan kepuasan yang tiada tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan cobaan sepanjang hari.
Iman dan Pengendalian Kesadaran Ma'iyatullah
Aqidah kita mengajarkan, tak satupun terjadi di langit dan di bumi tanpa kehendak ALLAH. ALLAH berkuasa menahan keinginan datangnya tamu-tamu yang akan menghalangi kewajiban da'wah. Apa mereka fikir orang-orang itu bergerak sendiri dan ALLAH lemah untuk mencegah mereka dan mengalihkan mereka ke waktu lain yang tidak menghalangi aktifitas utama dalam da'wah? Tanyakan kepada pakarnya, aqidah macam apa yang dianut seseorang yang tidak meyakini ALLAH menguasai segalanya? Mengapa mereka yang melalaikan tugas da'wahnya tidak berfikir perasaan sang isteri yang keberatan ditinggalkan beberapa saat, juga sebenarnya batu ujian yang dikirim ALLAH, apakah ia akan mengutamakan tugas da'wahnya atau keluarganya yang sudah punya alokasi waktu ? Yang ia beri mereka makanan dari kekayaan ALLAH ?
Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam berukhuwah, yang gerah dan segera ingin pergi meninggalkan kewajiban liqa', syuro atau jaulah. Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu, pertarungan mungkin hanya satu dua kali, sesudah itu tinggal hari-hari kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan. Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan "Seandainya para raja dan anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir dan majlis ilmu, niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kita dengan pedang". Sayang hal ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti, dihayati dan diperjuangkan. Berda'wah adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan problematika da'wah bersama ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh mereka menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan dalam kemilau dunia yang menipu dan impian yang tak kunjung putus.
Ayat ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah di bidang lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di bidang keuangan, kecuali ia juga lemah disitu. Yang lemah dibidang keuangan, jangan berani-berani memegang amanah keuangan kalau kamu lemah di uang hati-hati dengan uang. Yang lemah dalam gengsi, hobi popularitas, riya' mungkin– dimasa ujian – akan menemukan orang yang terkesan tidak menghormatinya. Yang lidahnya tajam dan berbisa mungkin diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum tabayun.Yang lemah dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara yang membuat dia hanya `selamat' dengan berdusta lagi. Dan itu arti pembesaran bencana.
Kalau saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah (d/h Yatsrib) ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia tidak sekaliber Rasulullah SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya. Bukankah tokoh-tokoh Madinah makin tinggi dan terhormat, dunia dan akhirat dengan meletakkan diri mereka dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan hanya bakhil dengan harta yang ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu, waktu, gagasan dan kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan.
Seni Membuat Alasan
Perlu kehati-hatian – sesudah syukur – karena kita hidup di masyarakat Da'wah dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidak akan membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orang kepada dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu. Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. "Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni daku karena ketidaktahuan mereka", demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita dari kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ? "Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri jauh dari kebaikan itu", demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai'Llah.
Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya, sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da'wah tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman maaf, "Afwan ya Akhi".
Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka Karunia Besar
Kelengkapan Amal Jama'i tempat kita `menyumbangkan' karya kecil kita, memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama'i kita, tanpa harus mengklaim telah berjasa kepada Islam dan da'wah. "Mereka membangkit-bangkitkan (jasa) keislaman mereka kepadamu. Katakan : `Janganlah bangkit-bangkitkan keislamanmu (sebagai sumbangan bagi kekuatan Islam, (sebaliknya hayatilah) bahwa ALLAH telah memberi kamu karunia besar dengan membimbing kamu ke arah Iman, jika kamu memang jujur" (Qs. 49;17).
ALLAH telah menggiring kita kepada keimanan dan da'wah. Ini adalah karunia besar. Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu – karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekwensi bergaul dengan manusia yang tidak maksum dan sempurna – menunggu musibah dan kegagalan, untuk kemudian mengatakan : "Nah, rasain !" Sepantasnya bayangkan, bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini?.
Saling mendo'akan sesama ikhwah telah menjadi ciri kemuliaan pribadi mereka, terlebih doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak nampak motivasi lain bagi saudara yang berdoa itu. ALLAH akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya, seraya berkata : "Untukmu pun hak seperti itu", seperti pesan Rasulullah SAW. Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada mereka yang saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata iman dan cinta fi'Llah.
Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.
NB:
copas lagi
[-read more-]
Diposting oleh
Ros Rose'diana
di
04.40
0
komentar
Label: taujih
Hati-Hati Pilih Suami!
Suami bagi seorang wanita adalah pemimpin rumah tangga yang harus dicintai serta ditaati. Ketaatan seorang istri pada suaminya bisa menjadi pembuka pintu surga baginya. Karena itu, hendaknya seorang wanita berhati-hati dalam memilih calon suami. Perhatikanlah, kepada siapa engkau menyerahkan diri.
Agama, Kriteria Utama
Kehati-hatian dalam memilih calon suami, bukan berarti harus melalui serangkaian syarat yang njelimet.
Rasulullah b bersabda yang artinya,
“Kalau ada seorang lelaki yang engkau sukai karena agama dan akhlaknya bagus melamar putrimu, maka nikahkanlah dengan putrimu itu. Kalau tidak, akan terjadi bencana besar di muka bumi ini.” (Riwayat At-Tirmidzi)
Dari hadits di atas jelaslah bila kualitas agama menjadi kriteria pertama dan utama untuk memilih jodoh. Sebagaimana lelaki yang diperintahkan untuk mencari istri yang baik agamanya, maka demikian pula wanita. Salah satu tolok ukur mendasar kebaikan agama seorang lelaki adalah penjagaannya terhadap salat wajib berjamaah di masjid.
Selain itu, kualitas agama juga mencakup kebagusan akhlak, karena sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik terhadap istrinya. Lelaki yang berakhlak mulia, akan bersikap lemah lembut dan sabar terhadap istrinya. Jika tidak suka ia tidak akan mencelanya, dan jika marah ia tidak akan menamparnya. Lelaki seperti inilah yang dapat mengantarkan istri pada kebahagiaan berumah tangga.
Apabila wali atau wanita itu hanya memperhatikan sisi harta, kedudukan dan pekerjaan calon suaminya, serta berbagai status dan ukuran-ukuran lain yang njelimet (misalnya bibit, bebet, bobot- Jawa) tetapi justru mengabaikan sisi agamanya, itu jelas kekeliruan besar.
Pentingnya Kecocokan Fisik
Setelah kualitas agama, faktor penting yang tak boleh diabaikan adalah kecocokan fisik. Sebelum menikah, hendaknya seorang wanita juga diberi kesempatan untuk menilai fisik dan penampilan calon suaminya, sebagaimana seorang lelaki dianjurkan untuk nazhar (melihat calon pasangan). Bila ada kecocokan, maka proses berikutnya bisa segera dilangsungkan.
Orang tua tidak boleh memaksa putrinya untuk menikah dengan pria yang tidak disukainya. Jadi, wanita juga berhak menolak seorang lelaki jika ia tidak menyukainya. Adanya kecocokan secara fisik dan karakter, akan lebih mudah menumbuhkan cinta di hati mereka setelah menikah.
Kemandirian Ekonomi
Faktor lain yang layak dijadikan bahan pertimbnagan saat memilih calon suami adalah kemandirian ekonomi. Seorang laki-laki ketika menikah, mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah istrinya, termasuk makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dengan cara yang baik. Setelah menikah, orang tua tidak mempunyai kewajiban memberi nafkah terhadap anak perempuannya, karena ia sudah dalam tanggungan suami.
Karena itu, seorang laki-laki hendaknya berusaha mandiri. Apalagi ketika ia telah memiliki niat untuk menikah, bahkan telah meminang. Berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi diri sendiri dan keluarga adalah kehormatan, sehingga lebih bisa menegakkan kepala ketika ada sesuatu yang harus disikapi. Ketergantungan secara ekonomi kepada keluarga bisa melahirkan tekanan psikis dan konflik-konflik yang pelik manakala telah menikah.
Kemandirian ekonomi bisa diperoleh dengan cara bekerja. Bekerja dalam hal ini adalah melakukan apa pun yang secara halal dapat menghasilkan ma’isyah bagi kehidupan kita sehari-hari, tidak harus memiliki satu profesi di instansi atau perusahaan tertentu.
Kematangan Emosi
Selain kemandirian ekonomi, membangun rumah tangga baru juga memerlukan kemandirian sikap mental atau kematangan emosi. Adakalanya sebuah keluarga memiliki kemandirian ekonomi tetapi tidak punya kemandirian sikap mental. Mereka sangat bergantung secara psikis kepada orang tua, dan selalu melibatkan orang tua dalam mengambil keputusan, meskipun untuk masalah-masalah yang sederhana.
Selain itu, cara suami mempergauli istri juga memerlukan sikap mental yang matang. Bila istri salah atau khilaf, ia tidak boleh tergesa-gesa memarahi atau memukulnya, tetapi harus menasihati dengan sabar. Seorang yang memiliki kematangan emosi akan sadar bila semua butuh proses, dan proses memerlukan waktu.
Jadi, Saudariku, sebisa mungkin pilihlah calon suami yang selain baik agamanya juga memiliki kemandirian ekonomi dan kematangan emosi.
Jangan Tergesa-gesa
Untuk mengetahui apakah beberapa hal di atas dimiliki oleh seorang calon suami atau tidak, tentu harus dilakukan penelitian. Sebisa mungkin galilah informasi yang objektif tentang calon suami kepada orang yang mengenalnya atau mengerti kesehariannya. Misalnya kawan akrab calon suami atau keluarganya.
Jangan tergesa-gesa melanjutkan proses bila masih banyak hal yang belum jelas tentang dirinya. Menyegerakan nikah bukan berarti tergesa-gesa. Semua perlu kejelasan dan persiapan matang. Jangan sampai Anda menyesal di kemudian hari, hanya karena tergesa-gesa memburu sesuatu yang tampak indah. Ingat, wanita itu mudah tergoda. Karena itu, hati-hatilah menjaga hati saat proses menuju pernikahan berlangsung.
Ada baiknya bila selama proses itu Anda lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan jangan lupa untuk salat istikharah. Bila memang si dia jodoh Anda, insyaallah Allah akan melancarkan segalanya. Bila memang belum berjodoh, yakinlah bahwa Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.
Bagi yang sedang menanti calon suami, teruslah berdoa agar Allah menganugerahkan seorang suami yang salih. Persiapkan diri Anda menjadi istri salihah dambaan suami, yang bisa membahagiakan suami lahir dan batin
http://duniapernikahan.wordpress.com/
[-read more-]
Diposting oleh
Ros Rose'diana
di
04.19
0
komentar
Label: ttg wanita